Oleh :
A. Faidlal Rahman Ali
Sekretaris Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI) Provinsi Jawa Timur
Di tengah hiruk-pikut wacana politik dan hukum yang sedang diberitakan media seperti Kasus Century, Gayus dan RUU Keistimewaan Yogyakarta, nampak ada pemberitaan yang diliput media berkaitan dengan polemik paket wisata kemiskinan. Paket Jakarta H...idden Tour yang ditawarkan oleh seniman Ronny Poluan, menjual daerah kumuh di pinggiran Kota Jakarta dengan memasang tarif Rp 1,5 juta/turis. Paket wisata ini telah berjalan selama beberapa waktu dan saat ini menjadi buah bibir pihak-pihak pelaku bisnis pariwisata.
Meskipun paket wisata ini kurang banyak mendapatkan porsi dalam frekuensi pemberitaan media, namun sempat mendapatkan respon dari pihak-pihak yang berkepentingan, termasuk sebagian stakeholder pariwisata yang mengecam kegiatan yang kurang bermartabat dan terkesan mengeksploitasi. Bahkan sampai terlontar kecaman keras dari Andyka, seorang anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, yang membidangi kepariwisataan. Dimana dia menganggap kegiatan ini tidak banyak memberikan manfaat, karena hanya mempertontonkan kemiskinan warga Jakarta untuk meraup keuntungan. Apalagi kehadiran warga asing ditambah pemberian uang akan menciptakan pengemis pada warga di pemukiman kumuh.
Keberananian Ronny Poluan membuat paket wisata ini, yang terkesan kurang elegan, memang jauh dari prakiraan publik. Apalagi latar belakang Ronny yang bukan berasal dari pelaku bisnis pariwisata menjadi pertanyaan dan kontroversi. Maklum saja, opini itu muncul pada saat Pemerintah Indonesia (Menbudpar) sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan program Visit Indonesia 2010 dan Sapta Pesona, selain karena pariwisata seringkali diidentikkan dengan kebersihan, keindahan dan kehidupan glamor. Oleh sebab itu, maka tidak jarang mereka mempersoalkan munculnya paket wisata ini.
Dalam salah satu pengakuannya, Ronny merancang paket wisata ini karena permintaan seniman luar negeri yang ingin berinteraksi dengan orang miskin di Jakarta."Saya tidak menjual kemiskinan negeri saya. Saya juga anak bangsa yang punya nasionalisme. Tolong ini dicatat dulu, sebelum timbul pikiran-pikiran negatif. Di luar itu, ada beberapa turis yang kemudian secara langsung tergerak untuk memberikan bantuan kepada warga." Pengakuan yang dikemukakan Ronny, bagi saya, adalah sesuatu yang perlu dihargai dan diapresiasi setinggi-tingginya. Karena apa yang dilakukan Ronny merupakan bentuk inisiasi dan kreativitas yang innonatif yang dalam dunia kepariwisataan kita.
Nilai Tersirat
Paket wisata yang dikemas sedemikian rupa ini memang berbeda dengan kebanyakan paket wisata yang ditawarkan kepada turis. Paket wisata ini menawarkan kondisi real kehidupan sebagian masyarakat Jakarta yang tinggal di pinggiran kota. Meskipun terkesan kumuh dan kotor, paket wisata ini tetap banyak diminati oleh wisatawan (Eropa dan Jepang), bahkan tidak jarang mereka terpanggil untuk membantu. Kegiatan wisata seperti ini merupakan sesuatu yang baru (something new) dan unik (unique) yang dapat memberikan pengalaman baru (new experience) sekaligus memiliki nilai tersendiri bagi turis, terutama ketika mereka melihat dari dekat situasi kehidupan masyarakat miskin. Ironisnya, kegiatan wisata ini berbenturan dengan konsep pariwisata yang konvensional, yaitu kegiatan wisata yang menawarkan keindahan alam dan budaya masyarakat yang sudah dipoles sedemikian rupa dan ditunjang oleh fasilitas-fasilitas yang serba mewah. Itu sebabnya mengapa sebagian pihak pelaku pariwisata merasa tidak setuju dengan munculnya paket wisata kemiskinan ini, karena diasumsikan mempertontonkan kemiskinan untuk meraup keuntungan (financial benefit).
Penyelenggaraan paket wisata ini, bagi negeri-negeri maju, bukan hal baru sehingga dengan mudah kita menemukan paket-paket wisata yang menawarkan daerah-daerah miskin, kumuh (slum area) dan sejenisnya. Misalnya saja, bagi masyarakat negara-negara maju seperti London dan New York, kegiatan wisata ini sering dilakukan hanya untuk melihat kehidupan dan kebiasaan orang miskin (the poor). Bahkan, di Afrika Selatan saja pada tahun 1980an, tour kemiskinan ini telah diatur untuk mendidik pemerintah-pemerintah lokal tentang bagaimana masyarakat berkulit hitam hidup. Oleh sebab itu, polemik penyelenggaraan paket wisata ini tidak perlu berkepanjangan apabila semua pihak dapat memaknainya secara konseptual dan mau memahami mengapa dan bagaimana kegiatan wisata kemiskinan bisa muncul dan banyak diminati oleh turis.
Terkait penyelenggaraan paket wisata kemiskinan ini, ada beberapa hal yang perlu dijadikan pijakan dalam memaknai hadirnya paket wisata ini. Pertama, kegiatan wisata kemiskinan adalah media untuk melihat perbedaan. Setiap wisatawan yang berwisata, pada dasarnya didorong oleh adanya perbedaan antara wisatawan dan komunitas setempat sebagai tempat yang dikunjungi. Bagi turis, perbedaan ini selain menjadi daya tarik wisata (tourist attraction), juga menjadi sumber pengetahuan yang tak ternilai yang dapat memberikan kepuasaan tersendiri (self-satisfaction). Apalagi ini selaras dengan apa yang dikatakan oleh seorang filosof Urray (1990) bahwa pariwisata merupakan kegiatan atau pengalaman touring. Pergi dan mencari sesuatu yang berbeda dengan hidup sehari-hari. Kedua, dapat menjadi media perkenalan (at-taaruf). Selain melihat adanya perbedaan, pertemuan antara wisatawan dan masyarakat setempat adalah kesempatan untuk saling mengenal, seperti kebiasaan mereka, tata cara berbicara, budaya melayani tamu, dan lain sebagainya. Ketiga, adanya interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat. Kehadiran wisatawan di tengah-tengah masyarakat miskin dapat memberikan hiburan, apalagi mereka dapat berkomunikasi secara langsung melalui prantara guide. Interaksi yang demikian terkadang menjadi kesenangan tersendiri bagi masyarakat setempat, bahkan pula menjadi spirit baru untuk keluar dari kondisi yang penuh keterbatasan. Dan Keempat, menggugah rasa kepedulian wisatawan. Sebagai makhluk sosial, wisatawan (manusia) memiliki rasa kepedulian dan kasih sayang, terlebih melihat orang lain dalam kemiskinan. Kedua rasa tersebut harus dijaga agar tidak pudar, yang salah satunya melalui kegiatan wisata kemiskinan. Karenanya, wisatawan yang datang perlu didorong agar mau membantu masyarakat miskin.
Paket wisata kemiskinan yang sedang naik daun dan mendapatkan respon berupa meningkatnya peminat (wisatawan asing), sudah saatnya mendapatkan penanganan yang serius dari pihak-pihak yang berwenang. Karena bisnis potensial ini dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat setempat, bahkan dapat didorong sebagai wahana untuk mengentaskan kemiskinan. Ini semua apabila masyarakat setempat diberikan diberdayakan sekaligus kesempatan untuk menjadi pelaku bisnis yang prospektif ini. ***
Sourch:http://www.harianbhirawa.co.id/opini/24627-kontroversi-wisata-kemiskinan